[email protected] (0261) 201244

Fenomena Penelitian Mahasiswa Keminatan IPS: Transformasi Kajian IPS SD melalui Media Digital, Pendekatan Kualitatif, dan Eksperimen Edukatif Berwawasan SDGs

28 November 2025 - Dibaca 139

Ketika guru meneliti, pendidikan dasar menjadi lebih bermakna, relevan, dan manusiawi (Nurdinah Hanifah).

Perubahan paradigma pendidikan pada era Kurikulum Merdeka telah membawa dampak signifikan terhadap orientasi penelitian mahasiswa, khususnya mahasiswa keminatan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Kajian-kajian terbaru menunjukkan bahwa mahasiswa tidak lagi terpaku pada penelitian deskriptif sederhana, tetapi mulai mengembangkan penelitian yang mengintegrasikan media digital, pendekatan kualitatif mendalam, serta eksperimen edukatif berbasis data.

Fenomena tersebut terlihat jelas melalui analisis terhadap puluhan matriks penelitian mahasiswa yang menunjukkan pola konsisten: ada transformasi besar dalam bagaimana mahasiswa memandang, merancang, dan meneliti praktik pembelajaran IPS SD. Kajian ini memotret tiga tren besar tersebut dan memetakan bagaimana tren itu mencerminkan pergeseran epistemologis dan pedagogis calon guru IPS masa depan.

Tren dominan dalam penelitian mahasiswa keminatan IPS adalah penggunaan dan pengembangan media digital. Lebih dari separuh mahasiswa memilih melakukan penelitian Research and Development (R&D) dengan model ADDIE, dan fokus pada pengembangan produk pembelajaran seperti: Flipbook interaktif bermuatan animasi, Video pembelajaran, Game edukasi berbasis Scratch, Peta digital, Virtual Tour Indonesia, LKPD digital, Simulasi pasar mini berbasis STEM (Ecomini).

Dominasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa keminatan IPS tidak lagi memandang IPS sebagai mata pelajaran hafalan, melainkan sebagai ruang eksplorasi visual, digital, dan interaktif. Media digital dipilih karena mampu a) Mengkonkretkan konsep abstrak dalam IPS (contoh: keragaman budaya, kondisi geografis, aktivitas ekonomi), b) Meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa, c) Memfasilitasi pembelajaran multimodal sesuai prinsip Mayer

Fenomena ini memperlihatkan bahwa mahasiswa calon guru IPS telah bergeser dari paradigma “teacher-centered” menuju desainer pembelajaran digital yang inovatif.

Tren kedua yang menonjol adalah meningkatnya penggunaan pendekatan kualitatif, terutama: Deskriptif kualitatif, Studi kasus, Wawancara mendalam dan Observasi partisipatif Pendekatan ini digunakan untuk meneliti tema-tema seperti: a) Sikap toleransi siswa dalam konteks kebhinekaan, b) Motivasi berprestasi, c) Keterampilan pemecahan masalah d) Respon siswa terhadap media atau model pembelajaran, e) Perspektif siswa mengenai materi IPS

Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa keminatan IPS mulai memahami bahwa inti pembelajaran IPS bukan hanya pengetahuan faktual, tetapi juga nilai, sikap, dan pembentukan karakter. Dengan kata lain, penelitian kualitatif memberikan ruang untuk menggali dinamika sosial, interaksi kelas, nilai-nilai sosial, dan proses berfikir siswa secara mendalam.

Fenomena ini membawa angin segar bagi penelitian IPS SD, karena memperlihatkan sensitivitas mahasiswa terhadap isu sosial-emosional dan nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi IPS.

Selain R&D dan kualitatif, sejumlah mahasiswa melakukan eksperimen edukatif menggunakan desain: One Group Pretest–Posttest, Quasi experiment, Uji efektivitas media, Uji pengaruh pendekatan STEM terhadap literasi ekonomi, Perbandingan hasil belajar sebelum–sesudah intervensi. Penelitian eksperimen ini menunjukkan: a) Kesadaran mahasiswa terhadap pengukuran objektif hasil belajar, b) Kemampuan menggunakan statistik pendidikan (uji normalitas, t-test, effect size, N-Gain), c) Dukungan kuat terhadap pembelajaran berbasis data

Fenomena ini memperlihatkan kematangan metodologis dan kemampuan mahasiswa mengevaluasi dampak inovasi mereka secara sistematis.

Ketiga tren tersebut—media digital, pendekatan kualitatif, dan eksperimen edukatif mengindikasikan bahwa kajian IPS SD sedang bertransformasi. IPS yang dahulu dianggap “monoton” kini dibingkai ulang sebagai: Pembelajaran berbasis teknologi,  Pembelajaran berbasis nilai social,  Pembelajaran berbasis data, Pembelajaran berorientasi karakter, Pembelajaran kontekstual

Mahasiswa keminatan IPS kini tidak hanya mempelajari konsep sosial, tetapi merekonstruksi pengalaman sosial siswa melalui teknologi, interaksi, dan eksperimen kelas.

Analisis terhadap berbagai matriks mahasiswa keminatan IPS menunjukkan bahwa terjadi pergeseran paradigma besar dalam penelitian IPS SD. Mahasiswa kini meneliti IPS sebagai ruang inovasi digital, kajian nilai sosial, dan laboratorium pembelajaran berbasis data. Pergeseran ini sejalan dengan SDG 4 (Quality Education) dan SDG 10 (Reduced Inequalities) dalam mewujudkan pendidikan berkualitas dan inklusif.

Transformasi ini bukan hanya mencerminkan perkembangan dunia pendidikan, tetapi juga memperlihatkan kesiapan mahasiswa menjadi guru IPS SD inovatif, reflektif, dan adaptif yang mampu menjawab kebutuhan pendidikan masa kini dan masa depan.