Dalam dunia pendidikan dasar, pembelajaran sains tidak hanya bertujuan untuk menambah pengetahuan konseptual, tetapi juga membangun kesadaran ilmiah terhadap fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk pembelajaran kontekstual tersebut tampak dalam kegiatan perkuliahan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang mempelajari konsep bunyi melalui pemanfaatan teknologi aplikasi sederhana soundmeter, yang dapat diunduh secara gratis. Kegiatan yang dilaksanakan dalam mata kuliah Literasi Sains yang diampu oleh Regina Lichteria Panjaitan, M.PFis ini adalah bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran sains yang relevan, menarik, dan berbasis teknologi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori bunyi, tetapi juga melakukan pengamatan langsung menggunakan benda yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu keripik. Konsep sederhana ini membantu mahasiswa memahami bahwa sains dapat dipelajari melalui objek di sekitar mereka, sekaligus melatih keterampilan digital melalui pemanfaatan aplikasi pengukur tingkat kebisingan.
Kegiatan diawali dengan pembagian mahasiswa ke dalam kelompok kecil. Mahasiswa kemudian diminta mengunduh dan menginstal aplikasi soundmeter pada gawai masing-masing. Aplikasi ini digunakan untuk mengukur tingkat bunyi yang dihasilkan ketika keripik dipatahkan.
Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan percobaan. Mahasiswa mematahkan keripik dengan tekanan yang berbeda, mulai dari tekanan pelan hingga tekanan kuat. Selama proses tersebut, mahasiswa mengamati angka desibel yang muncul pada aplikasi soundmeter. Data kemudian dicatat dalam tabel sederhana yang berisi jenis tekanan (pelan atau kuat), nilai bunyi yang dihasilkan, serta catatan pengamatan tambahan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa mempelajari bahwa bunyi berasal dari benda yang bergetar. Ketika keripik dipatahkan, struktur keripik mengalami getaran yang menghasilkan gelombang bunyi yang merambat melalui udara. Mahasiswa juga mengamati bahwa semakin kuat gaya yang diberikan saat mematahkan keripik, semakin besar amplitudo getaran yang dihasilkan, sehingga bunyi terdengar lebih keras.
Selain itu, mahasiswa juga dikenalkan pada konsep dasar bahwa bunyi merupakan gelombang mekanik yang membutuhkan medium untuk merambat. Pada tingkat sekolah dasar, konsep ini disederhanakan menjadi pemahaman bahwa bunyi dapat didengar karena merambat melalui udara. Mahasiswa juga memahami bahwa bunyi dapat memiliki perbedaan kuat-lemah (terkait amplitudo) serta tinggi-rendah (terkait frekuensi getaran), meskipun pada level SD konsep frekuensi cukup diperkenalkan sebagai bunyi yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan observasi ilmiah, tetapi juga memperkuat literasi digital mahasiswa. Mahasiswa belajar bahwa teknologi sederhana dapat menjadi alat bantu pembelajaran sains yang efektif. Teknologi tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra dalam proses belajar dan mengajar.
Sebagai calon guru sekolah dasar, mahasiswa PGSD dituntut mampu menyederhanakan konsep sains yang kompleks menjadi penjelasan yang mudah dipahami anak-anak. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berlatih menjelaskan konsep bunyi dengan bahasa sederhana, misalnya dengan mengatakan bahwa “bunyi muncul karena benda bergetar” atau “kalau kita menekan lebih kuat, bunyinya bisa lebih keras.”
Selain aspek pengetahuan, kegiatan ini juga melatih keterampilan berpikir kritis dan ketelitian ilmiah. Mahasiswa belajar mencatat data, membandingkan hasil pengamatan, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang diperoleh. Keterampilan ini sangat penting karena akan menjadi dasar dalam mengajarkan sains secara ilmiah kepada siswa SD di masa depan.
Kegiatan pembelajaran ini juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs). Pertama, kegiatan ini mendukung SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera karena mahasiswa belajar memahami dampak kebisingan terhadap kesehatan pendengaran. Kesadaran ini penting untuk membangun perilaku hidup sehat, termasuk menjaga lingkungan suara yang aman.
Kedua, kegiatan ini mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penerapan pembelajaran inovatif berbasis teknologi. Pemanfaatan aplikasi *soundmeter* menunjukkan bahwa teknologi digital dapat diintegrasikan secara efektif dalam pembelajaran sains untuk meningkatkan pemahaman konsep.
Ketiga, kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur karena mahasiswa dikenalkan pada pemanfaatan teknologi digital sederhana dalam kegiatan ilmiah. Hal ini menumbuhkan pola pikir inovatif yang penting dalam menghadapi perkembangan teknologi di masa depan.
Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab secara tidak langsung. Dengan menggunakan benda sehari-hari sebagai media pembelajaran, mahasiswa belajar memanfaatkan sumber daya secara kreatif tanpa harus bergantung pada alat laboratorium yang mahal.
Dengan demikian, kegiatan pembelajaran konsep bunyi melalui pemanfaatan aplikasi soundmeter dan percobaan keripik berbunyi tidak hanya memperkaya pemahaman mahasiswa tentang sains, tetapi juga membentuk keterampilan abad 21, yaitu berpikir kritis, literasi digital, dan kesadaran terhadap kesehatan serta lingkungan. Melalui kegiatan sederhana namun bermakna ini, mahasiswa PGSD dipersiapkan menjadi pendidik yang mampu menghadirkan pembelajaran sains yang kontekstual, inovatif, dan relevan dengan kehidupan nyata siswa sekolah dasar.