[email protected] (0261) 201244

Literasi Kritis Novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan Refleksi Hari Kartini: Ambisi, Keseimbangan, dan Keadilan Gender dalam Perspektif SDGs

20 April 2026 - Dibaca 66

A. Pendahuluan

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai momen refleksi atas perjuangan kesetaraan perempuan. Semangat Kartini yang menginginkan perempuan bebas berpendidikan dan berperan aktif dalam masyarakat kini bergema kembali melalui karya sastra dunia. Novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan karya Ihsan Abdul Quddus, sastrawan Mesir terkemuka, hadir sebagai cermin yang memantulkan pertanyaan yang sama: setelah perempuan berhasil meraih puncak karier, apa yang tersisa dari dirinya sebagai manusia utuh?

Novel dengan judul asli Wanasitu Anni Imra’ah ini mengisahkan perjalanan hidup Suad, seorang perempuan luar biasa di Mesir era 1930–1960-an yang berhasil menjadi doktor, dosen, aktivis, anggota parlemen, dan pemimpin berbagai organisasi perempuan. Namun di balik segala prestasi publik tersebut, Suad mengalami kerapuhan yang mendalam dalam kehidupan pribadinya. Novel ini relevan dikaji dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 5 (Kesetaraan Gender), dan SDG 16 (Keadilan dan Institusi yang Kuat), sebagai upaya membangun kesadaran kritis mahasiswa PGSD tentang isu gender, emansipasi, dan kemanusiaan.

 

B. Identitas Buku

Keterangan

Detail

Judul

Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan

Judul Asli

Wanasitu Anni Imra'ah

Pengarang

Ihsan Abdul Quddus (Sastrawan Mesir)

Penerjemah

Syahid Widi Nugroho

Penerbit

Pustaka Alvabet, Jakarta Timur

Tahun Terbit

Cetakan 1, April 2012

Tebal

228 halaman

ISBN

978-602-9193-16-9

Genre

Novel Sastra / Fiksi Sosial

 

C. Sinopsis Novel

Suad adalah representasi perempuan modern yang melampaui batas zamannya. Pada usia 15 tahun, ia sudah memimpin demonstrasi nasionalisme pertama oleh pelajar perempuan Mesir, saat sekolah-sekolah laki-laki pun belum bergerak. Ia berhadapan langsung dengan polisi Mesir dan perwira Inggris, dan menolak dibubarkan. Jiwa kepemimpinannya yang tumbuh sejak dini inilah yang menjadi fondasi seluruh perjalanan hidupnya.

Dalam dunia pendidikan, Suad memilih Fakultas Hukum bukan sekadar berdasarkan minat, melainkan atas kalkulasi strategis: jalur tercepat menuju karier politik dan pemerintahan. Ia meraih gelar doktor, menjadi salah satu dari sangat sedikit perempuan bergelar doktor di Mesir saat itu, lalu mendirikan Asosiasi Wanita Karier (AWK) yang menaungi perempuan dari berbagai latar belakang. Puncak kariernya dicapai ketika ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Mesir.

Namun novel ini justru dimulai dari puncak karier Suad, dengan pertanyaan yang membukakannya: bukan “apa prestasi selanjutnya?” melainkan “untuk apa semua ini?” Semakin tinggi ia memanjat tangga keberhasilan, semakin hampa ia merasakannya. Dua pernikahannya berakhir dengan perceraian. Anaknya, Faizah, tumbuh tanpa kehadiran ibunya dan pada akhirnya memanggil Suad dengan nama, bukan dengan sebutan “Ibu”. Itulah luka terdalam yang tidak bisa ditutupi oleh satu pun penghargaan publik.

 

D. Analisis Kritis dalam Perspektif SDGs dan Semangat Hari Kartini

1. SDG 4: Pendidikan Berkualitas — Pendidikan sebagai Jalan Emansipasi

Kisah Suad mencerminkan semangat SDG 4 yang menekankan akses pendidikan inklusif dan berkualitas bagi semua, tanpa memandang gender. Di era 1940-an, pilihan Suad masuk Fakultas Hukum adalah tindakan berani yang melampaui norma sosialnya. Ia menjadi satu dari sedikit mahasiswi di lingkungan yang didominasi laki-laki, justru kondisi inilah yang mempercepatnya dikenal dan membangun jaringan.

Pencapaian Suad sebagai doktor hukum mengingatkan kita pada perjuangan Kartini yang mendambakan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan. Keduanya membuktikan bahwa pendidikan adalah kunci pembebasan perempuan dari belenggu keterbatasan sosial. Namun keduanya pula mengajarkan bahwa pendidikan saja tidak cukup jika struktur sosial yang patriarkis tidak ikut bertransformasi.

2. SDG 5: Kesetaraan Gender — Ambisi yang Dihadang Patriarki

Novel ini menyajikan kritik tajam terhadap sistem patriarki yang menghambat perempuan, bahkan ketika perempuan tersebut telah berhasil melampaui standar laki-laki sekalipun. Dalam pernikahan keduanya dengan Dr. Kamal, Suad menghadapi konflik yang sangat relevan dengan SDG 5: seorang suami yang tidak tahan menjadi “suami dari Dokter Suad”. Di setiap jamuan, para tamu bahkan lupa bertanya tentang Kamal. Ego yang terluka ini memicu serangkaian upaya dominasi: memotong pembicaraan Suad, melarang Suad mengeluarkan pendapat di forum publik tanpa izin, hingga menempatkan diri sebagai “guru politik” bagi istrinya.

Ketimpangan ini mencerminkan realitas yang masih dihadapi banyak perempuan hingga hari ini: keberhasilan seorang perempuan sering kali dipersepsikan sebagai ancaman, bukan sebagai kebanggaan bersama. Sejalan dengan cita-cita Hari Kartini, SDG 5 menuntut transformasi budaya agar relasi laki-laki dan perempuan dibangun di atas kesetaraan, bukan kompetisi.

3. SDG 16: Keadilan dan Kelembagaan yang Kuat — Suara Perempuan di Ruang Publik

Keterlibatan Suad dalam DPR dan berbagai organisasi nasional menunjukkan kapasitas perempuan sebagai aktor politik yang setara. Ini senafas dengan SDG 16 yang mendorong partisipasi inklusif dalam pengambilan keputusan dan pembangunan institusi yang akuntabel. Suad membuktikan bahwa perempuan bukan hanya objek kebijakan, melainkan subjek yang mampu merumuskan dan memperjuangkannya.

Strategi Suad yang netral di tengah gejolak politik Mesir — antara kubu Ikhwanul Muslimin, Marxis, nasionalis, dan militer — adalah kecerdasan kelembagaan yang jarang dimiliki politisi mana pun. Netralitas baginya bukan kelemahan, melainkan senjata: ia bisa masuk ke semua pintu dan tidak terseret ketika salah satu kubu jatuh. Ini adalah model kepemimpinan inklusif yang sejalan dengan semangat SDGs.

4. Refleksi Hari Kartini: Keberhasilan Tanpa Keseimbangan adalah Kehampaan

Di sinilah letak paradoks terbesar novel ini, dan relevansinya yang paling dalam dengan semangat Hari Kartini. Kartini tidak hanya berjuang agar perempuan bisa berkarier — ia juga mendambakan perempuan yang utuh: cerdas, berperasaan, dan mampu mencintai. Suad kehilangan keseimbangan itu.

“Mengapa aku berhasil sebagai pemimpin tetapi gagal sebagai istri?... Aku meremehkan perasaan, peran sebagai ibu rumah tangga, rumah, dan suamiku. Membina rumah tangga sama dengan membangun negara dan aku belum mempelajarinya.”

Penggalan refleksi Suad tersebut mengajarkan bahwa emansipasi sejati bukan berarti meniadakan dimensi personal dan emosional seorang perempuan. Novel ini tidak menolak emansipasi, melainkan mengkritisi emansipasi yang ekstrem — yang membuat seorang perempuan kehilangan jati dirinya sendiri.

 

E. Relevansi terhadap Keterampilan Kewarganegaraan (Civic Skills)

Tokoh Suad menjadi contoh konkret tentang keterampilan kewarganegaraan yang dapat dijadikan bahan pembelajaran PKn di Sekolah Dasar. Terdapat dua dimensi keterampilan yang paling menonjol dalam dirinya:

a. Keterampilan Intelektual (Intellectual Skills)

•           Berpikir kritis dalam membaca situasi sosial-politik yang kompleks

•           Argumentatif dan persuasif dalam forum akademik maupun parlemen

•           Mampu membuat keputusan strategis berbasis kalkulasi rasional

 

b. Keterampilan Partisipasi (Participation Skills)

•           Aktif dalam organisasi kemahasiswaan, partai politik, dan gerakan perempuan

•           Memimpin demonstrasi dan aksi sipil sejak usia 15 tahun

•           Berkomunikasi secara efektif di ruang publik dan media massa

•           Membangun jaringan lintas-partai dan lintas-profesi

 

Namun Suad juga menjadi pelajaran tentang keterampilan yang terabaikan: kemampuan mengelola kehidupan pribadi, menjaga relasi emosional, dan membangun keseimbangan antara peran publik dan peran privat. Inilah yang menjadikan novel ini kaya sebagai bahan refleksi formatif bagi calon pendidik.

 

F. Kesimpulan

Novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan karya Ihsan Abdul Quddus adalah karya sastra yang melampaui sekadar kisah perempuan karier. Dalam semangat Hari Kartini, novel ini mengingatkan kita bahwa perjuangan kesetaraan gender (SDG 5) harus disertai dengan perjuangan untuk pendidikan yang inklusif (SDG 4) dan keadilan dalam institusi publik (SDG 16).

Kisah Suad mengajarkan bahwa keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari ketinggian jabatan atau panjangnya daftar prestasi, tetapi dari kemampuan seseorang — laki-laki maupun perempuan — untuk menjaga keseimbangan antara ambisi, perasaan, dan kehidupan pribadi. Seperti pesan abadi Ihsan Abdul Quddus:

“Setiap orang memiliki dua sisi: Satu untuk orang lain, satu untuk dirinya sendiri. Mustahil menyatukan keduanya.”

Dengan demikian, literasi kritis terhadap novel ini bukan sekadar apresiasi sastra, melainkan sarana pembentukan karakter dan kesadaran sosial bagi calon guru SD yang kelak akan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan kepada generasi penerus bangsa.

Kontributor : V