[email protected] (0261) 201244

Literasi Kritis terhadap Karya Sastra: Analisis Dimensi Sosial dan Kewarganegaraan dalam The Call of Cthulhu oleh Mochamad Fadhillah Yusup Fauzan

16 March 2026 - Dibaca 126

Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan memahami teks, tetapi juga kemampuan menafsirkan makna serta mengaitkannya dengan realitas sosial. Dalam konteks pendidikan tinggi, literasi kritis menjadi penting karena mendorong mahasiswa untuk berpikir reflektif, analitis, dan mampu melihat hubungan antara teks dengan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Karya sastra sering kali tidak hanya menghadirkan cerita fiksi, tetapi juga memuat refleksi terhadap kondisi sosial, politik, dan budaya pada zamannya. Salah satu karya sastra yang menarik untuk dianalisis adalah The Call of Cthulhu karya Howard Phillips Lovecraft. Cerita ini dikenal sebagai bagian dari Cthulhu Mythos, yang menggambarkan keberadaan makhluk kosmik purba yang melampaui pemahaman manusia.

 

Amazon.com: The Call of Cthulhu illustrated by Mike Dubisch: 9781960213358:  Lovecraft, H P, Dubisch, Mike: Books

Gambar 1. Cover Buku  The Call of Cthulhu

The Call of Cthulhu merupakan cerita pendek horor kosmik karya H. P. Lovecraft yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1928. Cerita ini disusun dalam bentuk investigasi terhadap berbagai dokumen yang mengungkap keberadaan makhluk kosmik purba bernama Cthulhu. Karya ini tidak hanya menampilkan unsur horor, tetapi juga merefleksikan gagasan cosmicism, yaitu pandangan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dalam alam semesta yang luas dan penuh misteri. Melalui pendekatan tersebut, cerita ini sering dibaca sebagai refleksi filosofis mengenai ketidakpastian, ketakutan kolektif, dan keterbatasan manusia dalam memahami realitas.

Meskipun dikenal sebagai cerita horor kosmik, The Call of Cthulhu juga dapat dibaca sebagai metafora sosial tentang ketidakpastian, ketakutan kolektif, serta munculnya kelompok-kelompok fanatik yang berkembang dalam situasi krisis. Fenomena tersebut memiliki relevansi dengan kajian Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), khususnya terkait dengan pentingnya rasionalitas warga negara, stabilitas sosial, serta literasi informasi.

Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menganalisis dimensi sosial dan kewarganegaraan yang terkandung dalam karya sastra The Call of Cthulhu melalui pendekatan literasi kritis.

Cerita The Call of Cthulhu disusun dalam bentuk investigasi terhadap berbagai dokumen yang ditinggalkan oleh seorang profesor bernama George Gammell Angell. Tokoh utama berusaha menyusun potongan-potongan informasi yang berasal dari berbagai sumber, seperti pengalaman seorang pematung yang mengalami mimpi kolektif tentang kota purba R’lyeh, laporan mengenai ritual rahasia di wilayah Louisiana, serta kesaksian seorang pelaut tentang kemunculan makhluk purba dari laut. Seluruh potongan informasi tersebut mengarah pada satu entitas kosmik yang disebut Cthulhu, makhluk purba dari ras yang dikenal sebagai Great Old Ones. Salah satu frasa yang terkenal dalam cerita tersebut adalah “Ph’nglui mglw’nafh Cthulhu R’lyeh wgah’nagl fhtagn” yang secara kasar berarti bahwa Cthulhu yang tertidur menunggu di kota R’lyeh yang tenggelam. Konsep bahwa ancaman tersebut tidak secara aktif menyerang, tetapi hanya “menunggu”, menunjukkan bahwa ketakutan manusia sering kali muncul dari kesadaran akan sesuatu yang tidak sepenuhnya dipahami.

Lovecraft mengembangkan konsep yang dikenal sebagai cosmicism, yaitu pandangan bahwa manusia hanyalah bagian kecil yang tidak signifikan dalam alam semesta yang sangat luas. Dalam perspektif ini, manusia tidak memiliki kendali penuh terhadap kekuatan yang lebih besar di luar dirinya. Kesadaran akan keterbatasan tersebut dapat memunculkan dua kemungkinan respons sosial. Pertama, manusia tetap bersikap rasional dan berusaha membangun sistem sosial yang mampu menjaga stabilitas masyarakat. Kedua, manusia tenggelam dalam ketakutan dan mencari makna melalui kepercayaan atau fanatisme yang ekstrem.

Dalam cerita tersebut, respons kedua lebih dominan. Hal ini digambarkan melalui munculnya kelompok rahasia yang dikenal sebagai Cult of Cthulhu, yaitu kelompok yang justru menyambut kehancuran dunia sebagai bentuk pembebasan dari tatanan sosial yang ada.

Fenomena munculnya kelompok fanatik dalam cerita tersebut dapat dipahami sebagai metafora sosial. Dalam kondisi ketidakpastian dan ketakutan, masyarakat dapat mengalami polarisasi yang kuat. Informasi yang tidak lengkap, rumor yang berkembang, serta kecurigaan antar kelompok dapat mempercepat munculnya konflik sosial.

Dalam kajian PKn dan IPS, kondisi tersebut sering dijelaskan melalui pola sosial yang dimulai dari ketidakpastian, kemudian berkembang menjadi ketakutan kolektif, mobilisasi kelompok, polarisasi sosial, dan pada akhirnya berpotensi menimbulkan instabilitas.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi dalam cerita fiksi, tetapi juga dapat ditemukan dalam berbagai peristiwa sejarah dan dinamika sosial masyarakat modern.

Salah satu konsep penting dalam cerita ini adalah forbidden knowledge, yaitu pengetahuan yang dianggap terlalu berbahaya untuk diketahui oleh masyarakat luas. Dalam cerita tersebut, semakin banyak tokoh mengetahui kebenaran tentang Cthulhu, semakin besar pula kekhawatiran bahwa pengetahuan tersebut dapat mengguncang stabilitas sosial. Konsep ini memiliki relevansi dengan kondisi masyarakat modern, terutama di era digital ketika informasi dapat menyebar dengan sangat cepat. Berita, rumor, dan propaganda sering kali beredar lebih cepat dibandingkan klarifikasi atau informasi yang benar.

Dalam konteks ini, Pendidikan Kewarganegaraan memiliki peran penting dalam membangun literasi kritis masyarakat. PKn tidak hanya mengajarkan norma dan hukum, tetapi juga membentuk kemampuan warga negara untuk berpikir rasional, menilai informasi secara objektif, serta memahami hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Karya sastra The Call of Cthulhu tidak hanya menghadirkan kisah horor kosmik tentang makhluk purba yang tertidur di dasar laut. Lebih dari itu, cerita ini dapat dibaca sebagai refleksi tentang kerapuhan manusia dalam menghadapi ketidakpastian serta potensi munculnya ketakutan kolektif dalam masyarakat. Melalui perspektif literasi kritis, cerita tersebut menunjukkan bahwa ketakutan yang tidak dikendalikan dapat memicu munculnya fanatisme, polarisasi sosial, serta melemahnya rasionalitas dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, penguatan literasi kritis dan pendidikan kewarganegaraan menjadi sangat penting untuk membangun masyarakat yang rasional, terbuka terhadap dialog, dan mampu menjaga stabilitas sosial.

Dengan demikian, karya sastra dapat dimanfaatkan sebagai media refleksi dalam pembelajaran untuk menumbuhkan kesadaran kewarganegaraan serta kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam memahami dinamika sosial di masyarakat.