[email protected] (0261) 201244

Magang di Sekolah Jawara Pancawaluya

26 February 2026 - Dibaca 92

Selasa, 24 Februari 2026, SDN Malaka Situraja tampak lebih sibuk dari biasanya. Tiga puluh mahasiswa Program P3K berjaket almamater merah maroon,sebagai identitas kebanggaan UPI Sumedang, duduk rapi di dalam kelas yang sudah siap untuk menerimanya. Mereka datang bukan sekadar bertamu, melainkan diserahkan secara resmi untuk menjalani praktik mengajar, Program Penguatan Profesional Kependidikan (P3K).

Di ruang kelas yang dikelilingi pepohonan yang hijau menyejukan,, penyerahan itu berlangsung sederhana. Hadir para guru sekolah setempat, dua dosen pembimbing lapangan, Drs. Dadan Djuanda, M.Pd dan Dr. Ahmad Sahid, M.Pd, serta Kepala Sekolah Ibu Ayah Elah Karmilah, S.Pd yang menerima langsung mahasiswa praktik tersebut.

 

 

 

Memasuki kawasan sekolah, siapa pun akan melewati sebuah gapura bertuliskan “Gapura Pancawaluya”. Nama itu bukan sekadar hiasan. Sekolah ini dikenal sebagai jawara lomba Pancawaluya tingkat Jawa Barat sekaligus sekolah ramah lingkungan.

Pepohonan hijau menaungi halaman. Bunga-bunga berjejer rapi di teras depan kelas. Udara terasa bersih, nyaris tanpa sisa sampah tercecer. Di lapangan upacara, anak-anak biasa melakukan senam Gemas,(Gerakan Mengasyikkan Anak Sehat), yang menjadi rutinitas kebugaran mereka.

Di tengah lapangan itu pula terdapat lapak sondah atau engklek, permainan tradisional yang tetap dipelihara. Tradisi dan modernitas berjalan berdampingan. Pembiasaan ecohero untuk kepedulian lingkungan dilakukan di tempat yang sama. Begitu pun dengan senam ceria dan lantunan selawat dalam pembiasaan qalbia, agar qolbu bersih dan iman terjaga.

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah Ayah Elah Karmilah, S.Pd menyampaikan rasa bangga dan terhormat atas kepercayaan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang menempatkan mahasiswa praktik di sekolahnya.

Ia berharap para mahasiswa dapat betah dan aktif mengikuti seluruh kegiatan sekolah. “Semoga di sini bukan hanya belajar mengajar, tetapi juga saling berbagi pengalaman, antara teori yang didapat di kampus dan praktik di lapangan,” ujarnya.

Bagi sekolah yang telah mengoleksi berbagai prestasi ini, kehadiran mahasiswa praktik bukan beban tambahan. Justru menjadi ruang dialog antara dunia akademik dan realitas kelas.

Sambutan dosen pembimbing lapangan terdengar lebih reflektif. Mahasiswa diingatkan bahwa mereka tidak hanya datang untuk mengajar, tetapi untuk belajar.

“Kalian berkuliah di SD ini dengan dosen para guru,” ujar Dadan Djuanda. Kepala sekolah dan para guru, katanya, adalah sumber inspirasi nyata. Anak-anak didik di sekolah itu pun menjadi cermin masa depan yang bisa diteladani.

Ia menggarisbawahi pentingnya menghayati nilai Pancawaluya: cageur, bageur, bener, pinter, singer. Sehat jasmani rohani, berperilaku baik, lurus dalam sikap, cerdas dalam berpikir, dan terampil dalam bertindak.

Nilai-nilai itu, menurutnya, bukan hanya untuk dihafalkan. Mahasiswa diminta mageuhan diri, meneguhkan diri, agar mampu menerapkannya dalam pembelajaran berbasis Pancawaluya. Pendidikan karakter, kata dia, bukan materi tambahan, melainkan ruh pengajaran.

 

Di SDN Malaka, pendidikan karakter bukan sekadar jargon kurikulum. Ia hadir dalam pembiasaan: senam pagi yang riang, gerakan peduli lingkungan, permainan tradisional yang mengasah motorik sekaligus kebersamaan, hingga lantunan selawat yang menyejukkan.

Mahasiswa P3K itu kini menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Mereka belajar bukan hanya menyusun modul ajar atau mengelola kelas, tetapi menyelami denyut sekolah yang menjadikan budaya lokal dan nilai spiritual sebagai fondasi.

Di bawah gapura Pancawaluya, praktik mengajar terasa lebih dari sekadar kewajiban akademik. Ia menjadi ruang pembentukan diri, agar kelak, ketika menjadi guru dan diangkat menjadi pendidik di mana pun, mereka tak hanya mengajar pelajaran, tetapi juga menumbuhkan karakter.(dije)