Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik merupakan mata kuliah wajib di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang termasuk ke dalam kelompok Mata Kuliah Pengembangan Keahlian Program Studi (PKPS). Mata kuliah ini memiliki peran strategis dalam membekali calon guru dengan pemahaman mendalam tentang karakteristik dan tahapan perkembangan anak usia sekolah dasar.
Pada hari Kamis, 30 Oktober 2025, perkuliahan memasuki pertemuan ke-9 dengan materi yang membahas perkembangan aspek sosial emosional peserta didik SD. Perkuliahan diampu oleh Dr. Ani Nur Aeni, M.Pd., yang dikenal dengan metode pembelajaran yang inovatif dan aplikatif. Pada pertemuan kali ini, suasana kelas menjadi sangat berbeda dan menarik karena mahasiswa semester 3 kelas A mengenakan seragam SMA lengkap saat melakukan kegiatan role playing.
Mahasiswa sangat antusias mengikuti perkuliahan ini. Mereka tidak hanya mengenakan seragam SMA, tetapi juga menghayati peran sebagai peserta didik dengan berbagai karakteristik sosial emosional yang berbeda-beda. Kreativitas mahasiswa terlihat dari bagaimana mereka mampu menampilkan berbagai situasi yang menggambarkan perkembangan sosial emosional anak, mulai dari interaksi pertemanan, pengelolaan emosi, hingga resolusi konflik antar teman sebaya.
Materi yang disampaikan dalam perkuliahan ini mencakup berbagai aspek penting perkembangan sosial emosional peserta didik SD. Mahasiswa mempelajari tentang tahapan perkembangan emosi anak usia sekolah dasar, kemampuan bersosialisasi dengan teman sebaya, perkembangan konsep diri dan harga diri, serta kemampuan regulasi emosi pada anak.
Dalam role playing yang dilakukan, mahasiswa mendemonstrasikan berbagai skenario yang menggambarkan tantangan sosial emosional yang sering dihadapi peserta didik SD, seperti kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru, konflik pertemanan, perasaan cemas atau takut, serta proses pembentukan identitas diri. Melalui metode ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori secara konseptual, tetapi juga merasakan langsung bagaimana dinamika sosial emosional anak berlangsung.
Mahasiswa juga mempelajari tentang peran guru dalam memfasilitasi perkembangan sosial emosional yang sehat, termasuk strategi menciptakan lingkungan kelas yang supportif, teknik komunikasi efektif dengan siswa, serta cara mengidentifikasi dan menangani masalah sosial emosional yang mungkin dialami peserta didik. Pemahaman ini sangat penting karena perkembangan sosial emosional yang baik akan berdampak pada keberhasilan akademik dan kesejahteraan psikologis anak secara keseluruhan.
Dr. Ani Nur Aeni, M.Pd., sebagai dosen pengampu memberikan apresiasi yang tinggi atas kreativitas mahasiswa saat menyajikan materi melalui role playing. "Saya sangat terkesan dengan antusiasme dan kreativitas mahasiswa dalam menghayati peran sebagai peserta didik. Metode role playing ini tidak hanya membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa tentang bagaimana memahami perspektif dan perasaan anak. Ini adalah kompetensi penting yang harus dimiliki oleh setiap calon guru," ungkapnya.
Beliau juga menekankan bahwa pemahaman mendalam tentang perkembangan sosial emosional akan membantu mahasiswa menjadi guru yang tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan emosional dan sosial peserta didiknya. "Harapan saya, mahasiswa dapat terus mengembangkan kepekaan dan empati terhadap kondisi sosial emosional anak, sehingga kelak dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan optimal setiap peserta didik," tambah Dr. Ani.
Prodi PGSD juga memberikan apresiasi atas berlangsungnya perkuliahan yang inovatif dan bermakna ini. Kegiatan pembelajaran yang melibatkan mahasiswa secara aktif melalui metode role playing menunjukkan komitmen dosen dalam menciptakan pembelajaran yang student-centered dan experiential learning. Prodi PGSD sangat mendukung metode pembelajaran yang tidak hanya transfer pengetahuan, tetapi juga memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa.
Prodi PGSD berharap kegiatan pembelajaran yang kreatif dan inovatif seperti ini dapat terus dikembangkan di berbagai mata kuliah lainnya. "Kami berharap mahasiswa dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dari mata kuliah Perkembangan Peserta Didik ini dalam praktik mengajar mereka kelak. Pemahaman yang mendalam tentang karakteristik perkembangan anak akan menjadi bekal yang sangat berharga dalam menjalankan profesi sebagai guru SD yang profesional dan kompeten," ujar perwakilan Prodi PGSD.
Prodi juga mendorong mahasiswa untuk terus belajar dan mengembangkan diri, tidak hanya dalam aspek akademik tetapi juga dalam mengasah soft skills seperti empati, komunikasi, dan pemecahan masalah yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan.
Pembelajaran tentang perkembangan sosial emosional peserta didik sangat relevan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-3 tentang Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan. Kesehatan mental dan kesejahteraan emosional anak merupakan bagian integral dari kesehatan yang holistik. Dengan membekali calon guru dengan pemahaman yang baik tentang perkembangan sosial emosional, diharapkan mereka dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kesejahteraan psikologis peserta didik.
Selain itu, pembelajaran ini juga mendukung SDGs ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya mengukur pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan sosial emosional anak. Guru yang memahami aspek ini dapat menciptakan pembelajaran yang inklusif, menyenangkan, dan bermakna bagi semua peserta didik.
Program ini juga sejalan dengan SDGs ke-10 tentang Pengurangan Kesenjangan. Dengan memahami perkembangan sosial emosional yang beragam pada setiap anak, guru dapat memberikan perhatian dan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik, sehingga tidak ada anak yang tertinggal dalam proses pembelajaran.
Melalui pendekatan pembelajaran yang holistik dan humanis, Prodi PGSD terus berkomitmen untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kepedulian terhadap kesejahteraan anak didiknya.