[email protected] (0261) 201244

Permainan Tradisional Sebagai Medium Perkembangan Anak: Refleksi atas Kegiatan Fun Traditional Playtime di SDN Babakan Bandung

25 May 2026 - Dibaca 48

Sabtu pagi, 16 Mei 2026, halaman SD Negeri Babakan Bandung di Sumedang, Jawa Barat, berubah menjadi arena keceriaan yang tidak biasa. Bunyi tepuk tangan, tawa lepas, dan sorak sorai anak-anak memenuhi udara saat puluhan siswa berlarian mengikuti aneka permainan tradisional. Inilah Fun Traditional Playtime, sebuah kegiatan yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh mahasiswa P3K Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang sebagai bagian dari program mereka di sekolah mitra.

Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa SDN Babakan Bandung dari kelas rendah hingga kelas tinggi, yang dibagi ke dalam beberapa kelompok campuran lintas jenjang. Mahasiswa P3K UPI Sumedang bertindak sebagai penyelenggara sekaligus fasilitator, dengan pembagian tugas yang terstruktur: menjadi pendamping permainan, mengatur jalannya acara, menjaga ketertiban peserta, dan mendokumentasikan seluruh rangkaian kegiatan. Kepala sekolah beserta dewan guru SDN Babakan Bandung turut hadir mendampingi dan memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya kegiatan ini.

Kegiatan ini digelar bukan tanpa alasan yang kuat. Pertama, secara praktis, kegiatan dirancang sebagai sarana penyegaran bagi siswa yang tengah menghadapi tekanan menjelang ujian sekolah, sebuah momen di mana kecemasan akademik kerap mencapai puncaknya. Kedua, secara kultural, kegiatan ini hadir sebagai respons terhadap merebaknya permainan digital yang perlahan menggeser permainan tradisional dari keseharian anak-anak. Bagi sebagian peserta, inilah pertama kalinya mereka mengenal dan memainkan permainan warisan budaya Indonesia secara langsung. Ketiga, secara pedagogis, kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari kompetensi mahasiswa calon guru dalam merancang pengalaman belajar di luar kelas yang bermakna dan berbasis perkembangan anak.

Dari sisi teknis pelaksanaan, mahasiswa P3K terlebih dahulu melakukan koordinasi internal untuk menentukan jenis permainan yang akan dimainkan, menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan, serta merancang strategi pengelompokan siswa. Pengelompokan lintas kelas menggabungkan siswa kelas rendah dan kelas tinggi yang sengaja dirancang untuk menghapus sekat antarpenjenjang sekaligus mendorong interaksi sosial yang lebih kaya. Kegiatan berlangsung sepanjang pagi hingga siang hari, diawali dengan pengarahan aturan permainan kepada seluruh peserta, dilanjutkan sesi bermain yang bergantian antar permainan tradisional yang telah disiapkan. Seluruh rangkaian berjalan tertib, meriah, dan penuh semangat.

Jika ditinjau dari perspektif psikologi perkembangan, kegiatan ini memiliki landasan ilmiah yang kokoh. Piaget (1952) menyebut anak usia 6–12 tahun berada pada tahap operasional konkret, di mana pengalaman langsung adalah media belajar yang paling efektif. Vygotsky (1978) melalui konsep Zone of Proximal Development (ZPD) menunjukkan bahwa interaksi antara siswa kelas rendah dan kelas tinggi secara alami menciptakan scaffolding sosial dimana siswa yang lebih senior menjadi model dan pembimbing bagi yang lebih muda. Erikson (1963) menambahkan bahwa pengakuan atas kontribusi dalam kelompok bermain langsung memperkuat rasa percaya diri anak pada fase industry versus inferiority yang sedang mereka jalani.

Manfaat kegiatan ini dapat diidentifikasi secara konkret di berbagai dimensi. Secara fisik, aktivitas gerak dalam permainan tradisional merangsang perkembangan motorik kasar yang kian terhambat oleh gaya hidup sedenter (WHO, 2020). Secara emosional, anak belajar mengelola perasaan saat kalah, bersikap sportif, dan membangun kepercayaan antarsesama keterampilan yang oleh Goleman (1995) disebut sebagai fondasi kesuksesan jangka panjang. Secara kognitif, aturan dan strategi permainan melatih fungsi eksekutif otak seperti perencanaan dan pengendalian diri, yang terbukti berkorelasi dengan keberhasilan akademik (Diamond, 2013). Secara psikologis, bermain terbukti menurunkan kadar kortisol — hormon stres — sehingga efektif sebagai strategi dekompresi menjelang ujian (Yogman et al., 2018). Dan secara kultural, anak-anak memperoleh pengalaman autentik bersentuhan dengan warisan budaya leluhur mereka yang tidak dapat diperoleh dari layar gadget manapun.

Kegiatan Fun Traditional Playtime ini membuktikan bahwa mahasiswa calon guru bukan hanya mampu berdiri di depan kelas, tetapi juga sanggup merancang pengalaman belajar yang holistik, menyenangkan, dan bermakna secara ilmiah. Di saat yang sama, ia menjadi seruan halus kepada seluruh pemangku kepentingan pendidikan: bahwa di tengah segala tekanan kurikulum dan ujian, anak-anak tetap berhak atas ruang bermain mereka — karena di setiap putaran permainan tradisional, ada satu anak yang sedang belajar menjadi manusia yang lebih utuh.