[email protected] (0261) 201244

Program BINTANG Dan Sedekah Karya Digital di SDN Cikadu

08 June 2026 - Dibaca 39

Sumedang, 08-6-2026- Pagi itu, halaman SDN Cikadu, Kecamatan Situraja, Sumedang, tampak berbeda. Beberapa murid yang semula bermain di sudut lapangan mendadak berlarian ke arah gerbang sekolah. Sebuah mobil berwarna biru memasuki halaman sekolah. Bukan mobil biasa. Itu adalah mobil perpustakaan keliling yang membawa puluhan bahkan ratusan buku ke tengah-tengah mereka.

Begitu pintu kendaraan dibuka dan rak-rak buku mulai terlihat, kerumunan anak-anak segera mengelilinginya. Mereka berebut melihat sampul buku, menunjuk judul yang menarik perhatian, lalu duduk lesehan di bawah pohon, di teras halaman sekolah, untuk mulai membaca.

Pemandangan itu menghadirkan satu kesimpulan sederhana, anak-anak sebenarnya tidak menjauh dari buku. Mereka hanya jarang dipertemukan dengan bacaan yang dekat dengan dunia mereka.

Saat buku-buku itu hadir di hadapan mereka, wajah-wajah yang semula biasa saja mendadak berbinar. Dalam hitungan menit, halaman sekolah berubah menjadi ruang literasi terbuka. Setiap anak seolah menemukan dunianya sendiri.

Momentum itulah yang menjadi ruh kegiatan Program BINTANG (Bina Minat Baca Generasi Gemilang) yang digagas mahasiswa Program Penguatan Profesional Kependidikan (P3K) Kelompok 13 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang, Senin, 25 Mei 2026.

Bagi banyak murid, kedatangan perpustakaan keliling menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Mereka bebas memilih buku yang disukai, mulai dari cerita bergambar, pengetahuan populer, kisah tokoh inspiratif, hingga buku-buku petualangan yang selama ini sulit mereka temukan.

Para murid memahami bahwa membaca bukan sekadar kewajiban sekolah, melainkan jalan untuk mengenal dunia yang lebih luas. Anak-anak diajak oleh Duta Baca, seorang mahasiswa PGSD Sumedang Budiman Zulfikri, yang sengaja didatangkan, untuk berbagi cerita tentang buku favorit mereka, mengajak untuk bermain literasi, dan berdialog mengenai cita-cita yang ingin diraih,

Yang menarik, tidak sedikit murid yang awalnya tampak malu-malu kemudian berani menceritakan isi buku yang baru saja mereka baca. Sebagian lainnya terlihat begitu tenggelam dalam halaman demi halaman buku hingga tidak beranjak meski waktu kegiatan hampir berakhir.

Anak-anak yang semula hanya menjadi penonton, hari itu berubah menjadi bintang-bintang literasi. Mereka seolah membantah anggapan bahwa generasi sekarang tidak suka membaca. Yang sesungguhnya terjadi, mereka tidak memiliki cukup kesempatan untuk berjumpa dengan bacaan yang sesuai dengan minat, kebutuhan, dan dunia keseharian mereka. Ketika buku didekatkan kepada mereka, rasa ingin tahu itu muncul secara alami. Ketika akses dibuka, semangat membaca tumbuh dengan sendirinya.

 

 

Pada saat yang sama, upaya meningkatkan kualitas pendidikan juga diarahkan kepada para guru melalui kegiatan Sedekah Karya Media Digital. Kegiatan berkolaborasi dengan dosen PGSD UPI Kampus Sumedang, Drs. Dadan Djuanda, M.Pd. dan Dr. Aah Ahmad Syahid, M.Pd., melalui program pengabdian kepada masyarakat bertema Sedekah Karya Digital bagi para guru.

Dalam sesi tersebut, para guru memperoleh pelatihan pemanfaatan teknologi digital untuk pembelajaran. Materi yang disampaikan oleh Dr. Aah Ahmad Syahid, M.Pd., sebagai instruktur nasional Digitalisasi Pembelajaran, ia menjelaskan mencakup penggunaan berbagai platform digital, pengembangan media pembelajaran interaktif, serta strategi integrasi teknologi dalam proses belajar mengajar.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang uji coba berbagai inovasi digital pembelajaran Bahasa Indonesia, hasil penelitian mahasiswa PGSD UPI Kampus Sumedang Angkatan 2022 yang sedang menyusun tugas akhir. Tiga produk yang diperkenalkan kepada guru antara lain: Aplikasi Ranting Ide karya Taupik Ahmadareksa; Aplikasi Pemeriksaan Ejaan karya Mochamad Ramadhan; Portofolio Digital karya Sherlly Nanda Nurlyani.

Para guru tidak hanya menyimak pemaparan, tetapi juga mencoba langsung berbagai aplikasi tersebut untuk melihat potensi penerapannya dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Antusiasme para guru tak kalah besar dibandingkan para murid yang mengerubungi mobil perpustakaan.

 Di ruang pelatihan, para peserta aktif bertanya, mencoba berbagai fitur aplikasi, berdiskusi tentang pembelajaran digital, hingga bertukar pengalaman mengenai tantangan mengajar di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat.

Beberapa guru bahkan masih bertahan setelah sesi resmi berakhir. Mereka ingin mengetahui lebih jauh bagaimana teknologi dapat membantu pembelajaran menjadi lebih menarik, lebih interaktif, dan lebih dekat dengan kehidupan para murid.

Pemandangan itu memperlihatkan satu hal yang sering luput dari perhatian bahwa transformasi pendidikan sesungguhnya tidak dimulai dari teknologi, melainkan dari manusianya.

“Saat ini pemerintah sedang menjalankan program digitalisasi pendidikan melalui distribusi Papan Interaktif Digital (PID) ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Program ini merupakan langkah besar untuk mempercepat modernisasi pendidikan nasional. Namun investasi sebesar apa pun tidak akan menghasilkan dampak yang berarti apabila tidak diikuti peningkatan kapasitas guru sebagai pengguna utama teknologi tersebut. Jika pola pembelajaran tetap satu arah, jika siswa tetap hanya menjadi pendengar pasif, dan jika teknologi hanya digunakan untuk memindahkan metode ceramah ke media digital, maka transformasi yang sesungguhnya belum terjadi, “ujar Drs. Dadan Djuanda,M.Pd sebagai ketua kegiatan Pengabdian Sedekah Karya Digital.

Menurut Dadan, yang dibutuhkan bukan hanya perangkat baru, melainkan cara pandang baru. Guru perlu melihat teknologi sebagai sarana untuk membangun pembelajaran yang lebih partisipatif, kreatif, kolaboratif, dan berpusat pada murid. Kehadiran papan interaktif digital tidak boleh sekadar mengubah papan tulis menjadi layar sentuh. Papan interaktif digital seharusnya menjadi alat untuk menghidupkan kelas, bukan sekadar mempercantik tampilan materi. Pendidikan tidak akan berubah hanya karena kapur diganti stylus atau karena presentasi PowerPoint ditampilkan pada layar yang lebih besar dan lebih canggih

Dalam konteks itulah literasi digital guru menjadi fondasi yang tak tergantikan. Sebab teknologi terbaik sekalipun akan menjadi benda mati apabila tidak ditopang oleh guru yang mampu menggunakannya secara bermakna.

Sedekah Karya Digital pada akhirnya bukan sekadar pelatihan teknis penggunaan aplikasi. Ia menjadi ruang belajar bersama yang mengingatkan bahwa kemajuan pendidikan tidak ditentukan oleh perangkat yang dimiliki sekolah, tetapi oleh sejauh mana guru terus bertumbuh, belajar, dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Kepala SDN Cikadu, Juju, S.Pd., menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara mahasiswa, dosen, Duta Baca, dan sekolah memberikan manfaat nyata bagi penguatan budaya literasi sekaligus peningkatan kompetensi digital guru.

"Anak-anak mendapatkan pengalaman membaca yang menyenangkan, sementara guru memperoleh wawasan baru mengenai pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran," ujarnya.

Kegiatan ini juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 tentang Inovasi dan Infrastruktur, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Namun lebih dari sekadar capaian program dan indikator pembangunan, ada satu pemandangan yang berbeda dari kegiatan itu. Hari itu, SDN Cikadu bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah program. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara literasi dan teknologi, antara buku dan layar, antara murid dan guru, antara masa kini dan masa depan.

Sebuah pengingat bahwa pendidikan bukan soal memilih antara buku atau teknologi. Pendidikan adalah bagaimana keduanya digunakan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu. Sebab ketika buku berhasil mendekati anak-anak, dan teknologi berhasil mendekati guru-guru, yang lahir bukan sekadar pembaca atau pengguna perangkat digital. Yang lahir adalah pembelajar sepanjang hayat. ***

 

Paramurid sedang memilih buku bacaan  yang dibawa mobil perpustakaan keliling