Pagi di kaki Gunung Tampomas masih menggigil. Kabut tipis belum sepenuhnya terangkat ketika Aula Bale Tampomas, Cimalaka, Sumedang, mendadak riuh. Jarum jam bahkan belum benar-benar menapak pukul delapan, sesuai mulai acara, tetapi suasana di tempat registrasi sudah ramai. Suara sapa, dan langkah kaki bersahutan, sesuatu yang tak biasa untuk suasana sepagi itu di kawasan yang biasanya lengang..
Di tengah riuh itu, ada suara mengalun pelan, lalu mengisi ruang. Seorang mahasiswa melantunkan pupuh Wirangrong. Nadanya lirih, tapi tegas. Isinya bukan sekadar tembang, melainkan petuah, tentang kesungguhan belajar, tentang bakti kepada negeri. Sejenak, hiruk pikuk mereda. Pesan itu seperti jatuh tepat di relung para peserta, 420 mahasiswa yang hadir dalam “Seminar dan Kuliah Umum Literasi Kebudayaan” bertema “Merawat Budaya Leluhur di Era Digital”, Jumat, 24 April 2026.
“Teu salempang, mahasiswa Gen Z masih ada yang dapat melantunkan pupuh dan menarikan tari kebanggaan budaya Sunda,” ujar Drs. Ahmad, pengampu dari Program Studi Keperawatan. Pernyataannya bukan sekadar apresiasi, melainkan juga semacam penegasan, bahwa warisan budaya belum sepenuhnya tercerabut dari generasi muda.
Acara ini menghadirkan dua pembicara. A. Suya dari Dewan Kesenian Sumedang membuka sesi dengan paparan “Eksplorasi Ragam Budaya Sunda”. Ia mengurai jejak panjang kebudayaan Sunda, dari nilai-nilai, kuliner, hingga tradisi yang hidup dalam keseharian masyarakat. Baginya, budaya bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan cermin identitas yang terus bergerak.
“Di tengah derasnya arus global melalui media digital, generasi muda perlu memiliki benteng budaya sendiri,” kata Suya. Benteng itu, menurutnya, bukan untuk menutup diri, tetapi untuk menyaring, agar identitas tidak larut dalam arus yang keliru.
Pembicara kedua, Dadan Djuanda, pengampu Literasi Kebudayaan Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Sumedang, memaparkan makalah “Ti Bihari, Ka Kiwari Alaeun Jaga,”, Ia membawa perspektif yang lebih aplikatif, menempatkan literasi budaya sebagai fondasi lintas profesi. Mahasiswa, katanya, tidak cukup hanya memahami teori antropologi, tetapi harus mampu mengimplementasikannya dalam praktik, baik sebagai pendidik, tenaga kesehatan, maupun pelaku pariwisata.
Dalam dunia pendidikan, misalnya, guru dituntut mengajarkan ilmu berbasis budaya secara kritis dan bertanggung jawab. Di bidang kesehatan, contoh nilai someah hade ka semah bukan sekadar etika, tetapi bisa menjadi bagian dari proses penyembuhan pasien. “Kepekaan budaya itu bukan pelengkap, melainkan kebutuhan,” ujar Dadan.
Ia juga mengangkat keberadaan pupuh sebagai media pembentukan karakter. Salah satunya pupuh Asmarandana karya R.A. Bratawijaya yang dulu kerap dinyanyikan setiap mulai belajar di sekolah dasar. Asamarandana Eling-eling murangkalih/ Kudu apik jeung berseka/Ulah odoh ka panganggo/Nu kotor geuwat seuseuhan/Soeh geuwat kaputan/Ka nu buruk masing butuh/Ka nu anyar masing lebar.//
Eling-éling masing éling/Rumingkang di bumi alam/Darma wawayangan baé/Raga taya pangawasa/Lamun kasasar nya lampah/Napsu nu matak kaduhung/Badan anu katempuhan//
Liriknya sederhana, tetapi sarat nilai, kebersihan, kesadaran diri, dan pengendalian nafsu. “Nilai itu tertanam tanpa disadari, menjadi papagon dalam kehidupan,” katanya.
Pengalaman itu diamini oleh Iyos Sutresna, S.P., M.M., dosen yang turut hadir. “Betul, pupuh seperti itu melekat sejak kecil. Sampai hari ini pun masih diingat,” ujarnya.
Seminar ini memang tidak berhenti pada wacana. Di sela acara, spontanitas peserta menjadi penanda bahwa budaya bukan sekadar bahan diskusi. Selain pupuh Wirangrong, seorang mahasiswa tampil menarikan jaipongan “Daun Pulus Keser Bojong”. Geraknya lincah, ritmis, dan penuh energi, selaras dengan udara yang mulai hareudang. Tepuk tangan pun pecah, panjang, seolah menjadi penutup.
Di penghujung acara, suasana kembali riuh, tetapi dengan nuansa berbeda. Bukan lagi sekadar keramaian registrasi, melainkan energi kolektif yang baru saja dipantik. Seminar itu, setidaknya, memberi satu pesan yang jelas bahwa, di tengah era digital yang serba cepat, budaya tidak harus ditinggalkan, ia bisa dirawat, dipahami, dan dihidupkan kembali, secara bertanggung jawab dan kritis oleh generasi sekarang, sebagai bekal meniti karier profesinya. Jejak budaya bihari, dicoba dipantik dan dirawat hari ini, agar dapat dipetik hasilnya pada generasi yang akan datang. ***