Judul buku: Totto-chan: The Little Girl at the Window / Gadis Cilik di Jendela
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Alibahasa : Widya Kirana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2008
Di tengah dunia pendidikan yang kini dipenuhi istilah teknis, kurikulum, capaian pembelajaran, evaluasi, dan target kompetensi, Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela terasa seperti napas yang ditarik perlahan. Buku ini tidak berteriak menawarkan solusi, tetapi mengajak pembaca berhenti sejenak untuk mengingat kembali hal paling mendasar dalam pendidikan: anak adalah manusia.
Kisah Totto-chan berangkat dari pengalaman nyata penulisnya, Tetsuko Kuroyanagi. Totto-chan digambarkan sebagai anak yang terlalu aktif, terlalu ingin tahu, dan dianggap mengganggu ketertiban kelas. Ia dikeluarkan dari sekolah bukan karena tidak mampu belajar, melainkan karena tidak sesuai dengan pola yang diharapkan. Dalam konteks pendidikan hari ini, situasi ini terasa sangat akrab. Anak yang berbeda kerap diposisikan sebagai masalah, bahkan tidak jarang menjadi sasaran bullying.
Perjalanan Totto-chan kemudian membawanya ke Tomoe Gakuen, sekolah alternatif yang dipimpin Sosaku Kobayashi. Sekolah ini jauh dari kesan mewah. Ruang kelasnya berupa gerbong kereta bekas. Namun di sanalah Totto-chan justru menemukan ruang belajar yang memerdekakan. Pada pertemuan pertama, Kobayashi mendengarkan cerita Totto-chan selama berjam-jam, tanpa menghakimi, tanpa menyela. Dari sikap sederhana itu, pembaca segera memahami bahwa pendidikan di Tomoe dibangun atas dasar penghormatan terhadap anak sebagai individu.
Di Tomoe Gakuen, anak-anak diberi kebebasan memilih urutan pelajaran. Mereka belajar melalui pengalaman langsung, bermain di alam, dan berinteraksi tanpa tekanan berlebihan terhadap nilai. Tidak ada suasana takut terhadap guru. Yang tumbuh justru rasa ingin tahu dan kepercayaan diri. Sekolah tidak menjadi ruang penghakiman, melainkan ruang aman untuk tumbuh.
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada caranya menampilkan relasi antaranak. Persahabatan Totto-chan dengan Yasuaki, seorang anak dengan keterbatasan fisik, digambarkan dengan sederhana dan jujur. Anak-anak di Tomoe tidak diajarkan teori inklusi, tetapi dibiasakan untuk melihat manusia lain apa adanya. Tanpa slogan, tanpa jargon.
Barangkali inilah sebabnya Totto-chan tetap relevan hingga hari ini. Buku ini mengingatkan bahwa pendidikan bukan semata proses akademik. Anak bukan mesin pencatat pelajaran, melainkan pribadi dengan emosi, ketakutan, dan harapan. Sekolah seharusnya merawat sisi-sisi kemanusiaan itu, bukan justru menekannya.
Dalam konteks meningkatnya kasus bullying di sekolah, baik secara langsung maupun melalui media digital, pesan buku ini terasa semakin mendesak. Banyak praktik bullying berawal dari kegagalan lingkungan sekolah dalam menerima perbedaan. Anak yang dianggap “tidak sesuai”, “terlalu aktif”, atau “berbeda” sering kali menjadi sasaran, bukan karena kesalahan mereka, tetapi karena sistem yang tidak memberi ruang aman.
Tomoe Gakuen memperlihatkan kemungkinan lain. Lingkungan yang dibangun atas empati dan penerimaan membuat anak tidak perlu merendahkan orang lain untuk merasa berharga. Di era ketika tekanan sosial dan komentar di ruang digital dapat melukai lebih dalam daripada kekerasan fisik, nilai-nilai yang dihidupkan di Tomoe terasa sangat relevan.
Pada akhirnya, Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela bukan sekadar kisah masa kecil yang manis. Buku ini adalah kritik lembut terhadap sistem pendidikan yang terlalu cepat memberi label dan terlalu lambat mendengarkan. Ia mengingatkan bahwa sekolah yang ideal bukan yang paling modern atau paling lengkap fasilitasnya, melainkan yang mampu memanusiakan manusia di dalamnya.
Buku ini sudah terbit pertama di Jepang 1981 dan terbit oleh Gramedia Pustaka Utama 2008, alihbahasa oleh Widya Kirana. Edisi revisi masih Gramedia Pustaka Utama pada 11 Nopember 2019. Melihat titimangsa terbitnya, buku ini termasuk lawas, namun isinya masih layak dibaca oleh guru, orang tua, dan siapa pun yang peduli pada masa depan pendidikan. Di tengah tantangan pendidikan modern dan maraknya kasus bullying, Totto-chan menawarkan satu pesan sederhana namun mendalam: pendidikan sejati dimulai dari empati. (Dadan Djuanda)